MATA UANG ASIA BERGERAK VARIATIF, DI TENGAH KETIDAKPASTIAN GLOBAL
20 Janiuari 2026, 13.31 WIB
Pergerakan nilai tukar mata uang Asia tercatat variatif saat berlawanan dengan kurs dolar AS.
Mata uang Thailand bath berhasil menguat terhadap greenback, di tengah jatuhnya mata uang Garuda dengan pelemahan terbesar diantara beberapa mata uang Asia lainnya.
Rupiah mencatat pelemahan sebesar 0,21% ke posisi Rp16.915/US$, setelah pada pekan lalu ditutup di posisi terlemah sepanjang masa di Rp16.880/US$.
Tidak hanya rupiah, pelemahan juga terjadi pada dong Vietnam yang ikut melemah sebesar 0,11% di posisi VND 26,264/US$. Won Korea dan peso Filipina juga masing-masing melemah sebesar 0,09% dan 0,08% atau KRW 1.474,64/US$ dan PHP 59,394/US$.
Sementara untuk mata uang Asia yang berhasil menguat dipimpin oleh Bath Thailand sebesar 0,41% di level THB 31,29/US$. Kemudian diikui dolar Taiwan yang naik 0,33% ke level 31,505/US$.
Di susul penguatan dolar Singapura dan yen Jepang yang masing-masing menguat 0,18% dan 0,15%. Penguatan yang dialami oleh yen sejalan dengan karakter mata uang tersebut yang kerap diburu saat pasar global tengah mencari perlindungan.
Selain itu, mata uang yuan China juga terlihat bergerak menguat 0,06% ke posisi 6,9638/US$, dan ringgit Malaysia cenderung stagnan di posisi 4,055/US$.
Pelemahan dolar AS di pasar global memberikan sentimen positif terhadap pergerakan mata uang Asia. Hal ini terlihat dari laju indeks dolar AS (DXY) yang bergerak melemah 0,18% ke level 99,212.
Greenback mengalami tekanan setelah investor merespons ketidakpastian kebijakan perdagangan AS yang semakin meningkat. Sentimen pasar kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland.
Akibat pernyataan tersebut membuat kekhawatiran baru terkait eskalasi tensi dagang global, sekaligus berpotensi menekan hubungan ekonomi AS dengan mitra utamanya di Eropa.
Sementara akibat tekanan dari dolar AS membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk mata uang Asia. Meski demikian, pelaku pasar masih akan mengamati perkembangan lanjutan kebijakan AS dan respons global, lantaran volatilitas pasar tetap berpotensi tinggi dan membuat laju mata uang Asia dapat berubah lebih cepat sepanjang hari.

ptsavemc@yahoo.com
ptsavemc
0877-7456-8833

