Untuk Mendapatkan Harga Terbaik, Segera Hubungi Kami di (021) 2961 5678                                                                                    
MATA UANG ASIA KOMPAK BERGERAK LESU

06 Oktober 2026, 10.08 WIB


image

Pasar valuta Asia Kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa (6/10/2026). Sejumlah mata uang Asia yang teroantau mencatat pelemahan terhadap kurs dolar AS, meski indeks dolar terlihat mulai stagnan pagi ini.

Mengutip data Refinitiv, pada pukul 09.15 WIB, Sembilan mata uang Asia bergerak di zona merah.

Mata uang dengan pelemahan terdalam dialami oleh peso Filipina dengan pelemahan sebesar 0,30% ke posisi PHP62,746/US$. Di susul won Korea Selatan yang terkoreksi 0,16% ke KRW1.343,75/US$.

Rupiah juga ikut melemah 0,06% ke level Rp17.905/US$, dolar Singapura turun 0,05% ke SGD1,2796/US$, dan untuk dong Vietnam berkurang 0,04% ke VND26.001/US$.

Untuk dolar Taiwan dan bath Thailand masing-masing melemah 0,03% ke TWD31,72/US$ dan THB33,65/US$. Yen Jepang bergerak turun 0,02% ke posisi JPY1577,94/US$, ringgit Malaysia menyusul pelemahan tipis 0,01% ke level MYR4,085/US$.

Mata uang Asia kompak bergerak melemah di tengah laju indeks dolar AS (DXY) yang terpantau stagnan di level 102,159 pagi ini.

Meski indeks dolar AS bergerak terbatas, namun masih berada di level tertinggi setelah reli kuat dalam beberapa sesi terakhir.

Penguatan greenback masih didorong oleh tingginya imbal hasil Treasury AS yang pada perdagangan sebelumnya Kembali menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade.

Kondisi tersebut menjaga daya tarik aset berbasis dolar, meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mulai mereda setelah data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari prediksi.

Selain itu, tekanan terhadap euro juga ikut menopang dolar. Mata uang tunggal Eropa bergerak di sekitar US$1,1220, mendakati posisi terendah dalam 17 bulan, setelah tertekan oleh kekhawatiran terhadap tingginya tingkat utang dan kebuntuan poliyik di Prancis. Pengumuman pemilu yang lebih awal di Spanyol juga ikut menambah ketidakpatian di Kawasan euro.

Sementara dolar AS masih bertahan menguat meski pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini. Para investor menilai bahwa The Fed masih perlu untuk mempertahankan kebijakan moneternya lebih lama lantaran tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.