RUPIAH DIPERDAGANGKAN MENGUAT
02 Oktober 2026, 09.23 WIB
Membuka perdagangan pagi hari ini, Jumat (2/10/2026), pergerakan nilai tukar rupiah terhadap kurs dolar AS terlihat berbalik menguat.
Rupiah dibuka menguat 0,08% ke posisi Rp17.925/US$.
Sedangkan untuk indeks dolar AS (DXY), yang mengukur penguatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat berada di level 102,107.
Laju rupiah hari ini akan kemungkinan masih akan dipengaruhi oleh beberapa sentiment dari dalam negeri dan luar negeri. Sentimen dari domestik, yakni perhatian pasar yang tertuju pada reshuffle, implementasi short selling, setra respons terhadap data manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi yang telah dirilis sebelumnya.
Dari pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) untuk tenor 10 tahun naik 5,3 basis poin menjadi 7,159% pada perdagangan Kamis kemarin (1/10/2026), sebelumnya berada di 7,106%. Kenaikan yield tersebut menunjukan adanya penurunan harga SBN tenor 10 tahun.
Sementara sentiment dari luar negeri dating dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menjadi salah satu sentiment utama yang mempengaruhi pasar. Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat sempat menyentuh 5,34% pada Kamis, atau tertinggi sejak 2002, sebelum akhirnya turun di kisaran level 5,26%.
Yield US Treasury yang tinggi mendorong daya Tarik asset berbasis dolar AS dan berpotensi memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar juga tengah menanti sejumlah data ekonomi AS, seperti klaim pengangguran, ISM Manufacturin, tingkat pengangguran, hingga non-farm payrolls. Data tersebut akan diamati untuk melihat kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan moneter The Fed.
Selain itu, perkembangan konflik di Timur Tengah juga ikut mempengaruhi. Harga minyak dunia naik tinggi hingga lebih dari US$4/barel pada Kamis, disebabkan oleh kekhawatiran pasokan setelah AS dikabarkan mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah dan China menghentikan ekspor produk minyak.
Kekhawatiran akan pasokan semakin meningkat setelah China menghentikan ekspor produk minyak di luar Hong Kong dan Makau, sementara Rusia melarang ekspor diesel hingga Oktober. Kondisi tersebut menyebabkan kekhawatiran pasokan bahan bakar global semakin ketat, terutama jika konflik di Timur Tengah kembali memanas.

ptsavemc@yahoo.com
ptsavemc
0877-7456-8833

