Untuk Mendapatkan Harga Terbaik, Segera Hubungi Kami di (021) 2961 5678                                                                                    
PAGI INI RUPIAH DIBUKA SUMRINGAH

19 Agustus 2026, 09.24 WIB


image

Membuka perdagangan pagi hari ini, pergerakan nilai tukar rupiah menunjukan penguatannya terhadap kurs dolar AS, menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Mata uang Garuda dibuka menguat 0,11% ke posisi Rp17.830/US$.

Penguatan rupiah ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya mengalami tekanan 0,17% ke posisi Rp17.850/US$.

Untuk indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,03% ke level 99,688.

Pergerakan rupiah hari ini juga masih dipengaruhi oleh penantian terhadap keputusan BI dan dinamika ekspektasi suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Hasil RDG yang dilakukan selama dua hari pada periode 18-19 Agustus 2026, akan diumumkan sore hari in, Rabu (19/8/2026).

Pasar memprediksi bahwa BI masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%. Sebelumnya BI juga mempertahankan suku bunga acuannya pada RDG Juli 2026.

Keputusan tersebut akan memperpanjang jeda setelah BI menaikan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei hingga Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%. Saat itu, BI menaikan suku bunganya lantaran untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.

Selain itu, pasar juga akan mengamati pandangan BI mengenai stabilitas rupish, kondisi ekonomi domestik, likuiditas, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

Sementara dari luar negeri, laju dolar AS masih terbatas lantaran pelaku pasar semakin memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan September.

Data ekonomi AS yang masih lemah, mulai dari hilangnya lapangan kerja pada Juli hingga inflasi yang relatif terkendali, membuat pasar memperhitungkan peluang hampir 70% The fed akan menahan suku buunga pada bulan depan.

Meski demikian, dolar AS masih mendapat dorongan dari kekhawatiran terkait konflik antara AS dan Iran, serta penutupan Selat Hormuz. Ketegangan tersebut kembali meningkatkan risiko kenaikan harga energi, inflasi hingga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak lebih tinggi.