MAYORITAS BURSA ASIA MENGUAT
26 Juni 2026, 09.14 WIB
Hingga perdagangan akhir pekan ini, rupiah masih bergerak melemah di zona merah terhadap kurs dolar AS.
Nilai tukar rupiah dibuka lesu dengan pelemahan 0,20% ke posisi Rp17.950/US$. Pelemahan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan kemarin sore ditutup menguat tipis 0,06% ke Rp17.915/US$.
Sedangkan untuk indeks dolar AS (DXY), tercatat menguat 0,10% ke level 101,533.
Laju rupiah hari ini diharapkan dapat bertahan positif di tengah dinamika dolar AS di pasar global yang cenderung stabil.
Indeks dolar AS juga sempat menghentikan reli penguatanj tiga hari berturut-turut pada perdagangan Kamis, kemarin. DXY jatuh dari posisi tertingginya sejak Mei 2025, meski masih berada di jalur penguatan mingguan kedua secara beruntun sejak konflik Timur Tengah kembali memanas pada akhir Februari.
Selain itu, para palaku pasar saat ini masih terus menanti data inflasi AS. Personal Consumption Expenditures Price Index atau PCE, yang menjadi pengukur inflasi pilihan bank sentral AS, naik 41% secara tahunan pada Mei 2026. Kenaikan ini sejalan dengan ekspektasi ekonom dan menunjukan tekanan biaya hidup di AS masih tinggi, terutama setelah konflik Timur Tengah ikut mendorong harga energi.
Sementara dari dalam negeri, pemerintah kini tengah berupaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Salah satunya melalui rencana penerbitan surat utang berdenominasi yuan China atau Panda Bond.
Investor juga akan mengamati sejumlah indikator ekonomi lainnya dari AS. Di antaranya pembacaan final produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2026, data pendapatan pribadi Mei, pesanan barang tahan lama awal, serta klaim pengangguran mingguan untuk periode yang berakhir 20 Juni.
Penerbitan Panda Bond dapat menjadi bagian dari diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah. Dengan sumber pembiayaan yang lebih beragam, tekanan dari fluktuasi dolar AS terhadap APBN diharapkan akan lebih terbatas.

ptsavemc@yahoo.com
ptsavemc
0877-7456-8833

