Untuk Mendapatkan Harga Terbaik, Segera Hubungi Kami di (021) 2961 5678                                                                                    
SENTIMEN PENGUATAN RUPIAH

02 Februari 2026, 09.15 WIB


image

Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan terhadap kurs dolar AS, di tengah dinamika pergerakan dolar di pasar global.

Rupiah dibuka menguat, meski hanya tipis 0,06% ke posisi Rp16.770/US$, setelah akhir pekan kemarin di tutup melemah 0,21% ke posisi Rp16,780/US$

Sedangkan indeks dolar AS (DXY) berada di jalur positif dengan penguatan 0,09% ke level 97,077. Ini melanjutkan penguatan sebelumnya yang melonjak 0,74% di angka 96,911.

Laju rupiah hari ini, masih akan dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri dan luar negeri. Dari luar negeri, penguatan DXY yang mengukur penguatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia ikut menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Respon investor terahdap kemungkinan arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed di bawah potensi kepemimpinan Kevin Warsh, memberikan dorongan terhadap penguatan indeks dolar.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump yang menunjuk Warsh sebagai Ketua The Fed telah memicu aksi jual berisiko pada Jumat pekan lalu, hingga menekan Logam Mulia. Meski pasar menilai Warsh cenderung mendukung pemangkasan suku bunga, namun investor memprediksi bahwa ia akan mendorong pengetatan neraca The Fed yang umumnya mendorong dolar lantaran mengurangi likuiditas di pasar.

Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari pelaku pasar yang menanti dua rilis data penting yakni inflasi Januari 2026 dan neraca dagang Desember 2025.

Inflasi Indonesia diperkirakan akan melandai pada Januari 2026, seiring dengan normalisasi harga sejumlah bahan pangan. Inflasi inti diperkirakan relatif stabil di sekitar 2,4%.

Rilis inflasi ini akan menjadi salah satu acuan bagi Bank Indonesia (BI) sebagai penentu arah kebijakan suku bunga ke depan.

Selain inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) juga akan mengumumkan neraca dagang Desember 2025, yang diperkirakan akan mengalami surplus mencapai US$5,05 miliar, lebih tinggi dibanding November 2025 sebesar US$2,66 miliar. Jika angka tersebut terealisasi, maka surplus ini akan memperpanjang tren positif neraca dagang Indonesia menjadi 67 bulan berturut-turut, dan menjadi sinyal ketahanan eksternal di tengah perlambatan ekonomi global.